cerita pendek yang menarik dan asyik
Formula Hidup
Pakaian
seragam dengan rompi kotak-kotak ini
sangat pas dengan badanku. Badanku tampak lebih tinggi disini. Rok
diatas lututku tak menampakan badan mungil dan kurus ini.
“mah, aku berangkat
sekolah dulu ya, assalamualaikum.”dalam hati ku ucapkan doa keluar rumah.
Ku
bulatkan niatku untuk menuntut ilmu di sekolah.
Aku berjalan ke arah halaman rumahku. Niatku hendak memotong jalan ke
arah sawah yang ada di seberang jalan
utama rumah. Sepatu pantopel kecil berwarna putih ini memiliki manik-manik di
bagian depannya. Aku melihat ke arah selokan di depanku.
“kalo saja aku membawa
sandal jepit pasti aku bisa lalui ini.” Dalam hati aku bergumam.
Biasanya
selokan di sawah ini bisa kulompati
paling tidak ada jembatan dari 2 kayu seukuran pemukul baseball yang jika
disatukan mampu membentuk jembatan yang diharapkan bisa kupakai sebagai alat
menyebrang. Tapi kali ini aku melihat kayu itu sudah dilepas, atau mungkin
terlepas terbawa arus selokan kecil yang deras karena hujan yang mengguyur sejak
dua hari lalu. Aku sangat beruntung hari ini hujan tidak turun, hanya awan saja
yang sedikit mendung menutupi mentari.
Ini semua sudah kuduga, sudah pasti kalau tanah sawah akan lembek dan
becek jikalau terkena hujan. Aku mngeluarkan keresek hitam kecil yang terdapat
dibagian depan tasku. Kresek itu berukuran sebesar buku paket sekolahku. Aku gunakan di sepatuku
dan ku ikat dibagian mata kaki.
“sekarang sepatu putih ini akan aman dan tak
akan penuh kotoran.”
Aku
sampai di gerbang menuju kompleks perumahan. Rumahku memang dekat kompleks dan
jalan raya tapi kompleks menuju sekolahku sudah bukan lagi kompleks daerah
rumahku. Walau rumahku berada dekat komplek tapi hidupku tak terlalu bernasib
baik. Keluargaku tidak harmonis, sering kali orang tuaku bertengkar
dihadapanku. Mereka bertengkar dihadapan aku, kakakku, dan adikku. Tragis
memang, mereka bertengkar di depan adikku yang masih berumur 2 tahun. Perbedaan
umur antara aku, adikku dan kakakku hanya 5 tahun. Kami juga tidak dekat bahkan
aku ingat, aku pernah dipukul kakakku dan aku juga pernah memukulnya dengan
ikat pinggang. Aku ingat ayahku juga pernah memecahkan gelas karena marah pada
ibuku, dan akulah yang harus membereskannya. Aku merasa dituntut dewasa sebelum
waktunya.
Perjalanan
ke sekolahku sudah dekat, aku sekarang tinggal menempuh satu belokan lagi.
Hanya butuh waktu 3 menit menempuhnya. Bahkan sekarang aku sudah ada di
kelasku. Aku kebagian piket hari ini. Aku bukan tipe anak yang pemalas dan
tidak bertanggung jawab. Karena aku hidup dan tumbuh di keluarga yang keras
maka aku merupakan anak yang rajin dan cukup mawas diri. Sapu sudah digenggaman
ku. Aku segera menyapu lantai yang cukup kotor. Sekarang mentari sudah muncul menampakan diri seperti sedang terbit.
Aku terkena sinar matahari itu. Kalau matahari muncul jam segini artinyakan
sudah tak sehat jika cahayanya terlalu banyak masuk ke kulit. Pikiran sederhana
itu muncul. Tapi walau begitu sejak kecil aku tak pernah takut akan sinar
matahari. Tebak saja, seorang anak kecil yang menantang matahari pasti memiliki
kulit hitam. Hal itulah yang sering memberikan aku julukan baru, misalnya saja
“Bolang”.
Teman-teman
putraku keluar dari kelas, tiba-tiba salah satu dari mereka memanggil namaku.
“hei Reita!”
Aku menyaut dan membalikkan badanku
mencari sumber suara.
“ hei kulit hitam liat sini, mau liat saja susah sih,
dasar kulit hitam, sudah kulit hitam, muka hitam, semua saja hitam. Cuma sepatu
baju dan kaos kaki saja yang putih dasar si Hideung!”
Aku kaget kenapa temanku
bisa mengatakan seperti itu. Tapi anehnya aku tak menangis, mungkin karena
perasaanku itu masih tidak peka. Masih
tidak sadar, masih tidak berpikir panjang, masih tidak ambil pusing, masih
tidak perlu tau, masih tak peduli, masih manja, dan masih tidak sadar akan
kerasnya pergaulan. Yang aku tau hanya kerasnya hidup dan diam di kelaurga yang
menuntutku dewasa diluar kendaliku.
Nyatanya
sekarang aku dewasa dalam keadaan tak berubah, lamunanku barusan sudah ku
sadarkan. Sejak tadi ternyata aku hanya menatap pohon. Aku mengkhayal kalau aku
mendapat hujan uang, hujan yang turun dari langit senilali 2 miliar. “Huh
sungguh mimpi kamu Reitaaa! Bodoh kamu ini!” aku menggerutu pada diriku
sendiri. Jujur saja sekarang aku sedang kesulitan uang, aku ingin mengumpulkan
uang untuk membeli rumah yang lebih besar daripada yang aku tempati sekarang.
Aku ingin mengajak ibu dan ayahku pindah dari kota ke desa. Aku ingin memiliki
perusahaan yang ku kelola bersama adik dan kakakku. Tapi modalnya darimana,
selalu itu yang jadi permasalahan. Uang sekarang adalah kendala bagiku meneruskan
hidup, pernah aku ingin sekali mengakhiri hidup disaat aku putus asa, tapi
pernah pula aku ingin menjadi penguasa negara agar banyak orang yang mengalami
nasib buruk seperti ku bisa kubantu agar hidup lebih baik lagi. Tapi caranya
bagaimana, modal otak sajakan tak cukup.
Sekarang
genteng rumah ini sepertinya akan bocor karena kugunakan untuk berdiri dan
duduk atau sesekali tiduran menatap penguasa malam. Aku mungkin terbilang nekat dan nakal
karena kebiasaanku sejak remaja hingga dewasa menaiki genteng yang tinggi
seperti ini tapi aku suka menaiki ini, aku suka tantangan. Seperti saat ini, sampai detik ini aku tak mengakhiri hidup
karena aku tau ini tantangan dan jebakan. Kalau aku menyerah artinya aku
terjebak dan gagal. Aku tak mau hidup sia-sia. Untuk hidup yang tak sia-sia,
aku bekerja dan berusaha dapatkan yang aku ingin. Aku percaya suatu saat nanti,
apa yang aku mau dan apa yang aku ingin akan menjadi nyata.
Hari
ini jadwalnya aku akan pergi ke Pangandaran. Aku dapat jatah libur dari
kantorku. Sebenarnya aku ingin diam saja di rumah tapi aku diajak mencari sampingan
oleh saudaraku disana. Nama saudaraku Safitri, dia tinggi, kurus dan lebih putih
dariku. Dia bekerja di sebuah hotel. Hotel yang sangat megah dan mewah dengan
pemandangan yang indah. Dia bekerja sebagai pelayan. Gajinya sama denganku.
Bedanya dia bekerja selama 4 hari dan aku bekerja selama 7 hari dalam seminggu. Bayangkan, itu dalam seminggu! Tragis memang,
namun tetap aku syukuri. Layaknya orang yang akan bepergian, aku pun
besiap-siap. Aku diantar oleh supir travel sampai di depan hotel. Kebetulan
travel itu selalu mengantar turis-turis ke hotel Marvel’z. Nama hotelnya bagus
sebagus tempatnya, itu yang selalu orang katakan, kadang aku pun berpikiran
seperti itu, malah aku sering bermimpi memiliki hotel seglamour ini.
Setibanya
aku di hotel, Safitri sudah menungguku. Dia bersama teman lelakinya.
“Hai Reita!
Apa kabar? Sudah lama tak berjumpa. Kamu makin manis ya.”, katanya.
"Oh makasih loh Sa,
kamu juga ya, makin kurus aja loh. Makin kayak model nih. Kenapa ga jadi model
aja coba Sa?”, ucapku.
Safitri menunduk, aku pikir pertanyaanku salah.
“Aku salah ya
bicara gitu?”
Safitri menebar senyum indahnya, lalu sedikit menenangkan.
“Engga
ko Re, kamu kan tau, jadi model itu ga bisa berpakaian tertutup. Banyak resiko
yang akan aku hadapi kalo aku ambil job itu. Ibu dan bapak juga melarang, malah
ibu inginnya aku seperti kamu. Tertutup, muslimah, baik dan anggun.”
Aku mulai
tersanjung oleh kata-kata Safitri.
“Ya ampun Sa, aku sama kamu aja lebih cantik
kamu loh. Kamu malah mau jadi aku. Tapi makasih loh ya untuk pujiannya.”
Aku
dan Safitri tertawa bersama. Aku malah terlupakan akan kehadiran teman lelaki
safitri.
“Oh iya Re, ini temen aku Bara. Bara kenalin ini Reita, saudara aku
dari Bandung.”
Aku sedikit canggung dengan bara aku pikir namanya sangat unik.
“Nama kamu unik ya Bara, seunik orangnya. Kamu cocok banget sama Sa.” Aku
tersenyum, sedangkan Sa terkekeh. Bara
hanya tersenyum sambil menatap padaku.
Aku
diajak oleh Sa ke tempat kerjannya ternyata hotel Marvel’z itu indah luar
biasa. Aku takjub sekali dengan kemegahannya “subhanallah” aku tak henti mengucapkan
kalimat itu. Sementara Sa bekerja, aku diminta membantu pekerjaan di dapur.
“Memang
sih aku bisa masak, tapi untuk ukuran hotel kan dibutuhkan keahlian khusus.
Jelas saja hidangan di sini kan sengaja dibandrol untuk ukuran seorang turis
kaya raya.”, ucapku lirih.
Aku di dapur hanya duduk dan melihat saja, kadang aku diajak untuk
memasak sebagian makanan khas sunda. Dari pintu luar ternayata Bara datang
dengan seragam chefnya.
“Ternyata ia chef di hotel ini pantas saja ia kenal
dengan Sa dan dekat dengannya.” Pikirku dalam hati.
Aku tak ingin melihat Bara,
biarkan Bara saja yang melihatku dan menyapaku terlebih dahulu. Tak lama kemudian
Bara menyapaku.
“Hai Reita, aku pikir kamu ikut sama Sa”
Aku tersenyum
“Engga
ko, aku disuruh diam di dapur. Soalnya pekerjaan diluar sedang sibuk. Banyak
tamu yang akan checkout.” Aku mengangguk tak tentu.
Dia menanggapiku dengan hanya mengangkat alis dan
mengajak ku berdiri. Menarik lenganku dan menyuruhku membantunya. Aku segera
melepaskan tanganku darinya.
“Bukan muhram Bar”
Bara memajukan bagian wajahnya
pertanda tak mengerti yang aku maksudkan barusan.
“Bukan pasangannya Bar,
artinya belum diperbolehkan dalam islam.”
Bara mulai mengangguk paham.
“Maafkan
aku Re, aku ga tau masalah yang begituan”, katanya.
Aku tersenyum tipis dan mengangguk
maklum atas kejadian itu. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang pintu tak
lama pintu pintu itu terbuka. Seorang supervisor bernama John menyuruhku membuang
sampah di dapur. Aku kaget! kenapa harus aku yang mebuangnya?! Tapi aku tak berkomentar. Bisa masuk dan diam gratispun sudah untung, banyak
orang yang ingin sekedar masuk ke sini tapi tidak seberuntung aku. Aku menghela
nafas dan berjalan menuju pintu keluar. Aku membawa tumpukan 2 keresek sampah
ini dengan terombang-ambing. Sepanjang jalan, ada air yang mentes ke bagian
bawa celanaku. Saking banyaknya, tetesan itu membasahi setengah betis kakiku. Jarak
Hotel ke tempat sampah 100 m jadi jarak itu cukup untuk membiarkan air
membasahi celanaku lebih banyak lagi. Aku penasaran apa isi dari keresek itu.
setelah susah payah ku buka. Ternyata itu adalah sampah organic sisa
buah-buahan. Mungkin itu sisa dessert cooking, dan air yang mengenai celanaku
adalah sari kulit buah naga. Oh baunya lama-lama tak enak, tapi aku melihat ada
yang aneh dari kulitku, kulit yang tadinya kering jadi lebih halus.
“sari buah
ini tercampur oleh apa lagi ya? Ko bisa sih efeknya secepat dan sebagus ini?
harus aku selidiki nih”
aku dulu adalah anak kimia yang senang berkutat dengan
senyawa, maka tak heran dengan adanya kejadian ini aku malah ingin mencari tau.
Setiap
hari aku menguji beberapa zat yang aku dapat dari mengambil sisa sampah di
dapur. Semakin sering aku mengambil sampah pak John semakin curiga padaku,
sering kali lelaki muda berkulit putih ini berlalu di hadapanku dengan bertatapan
sinis kepadaku. Ia seakan ingin mengusirku dengan membawa bodyguardnya kepadaku
agar mentalku jatuh dan aku merasa tertekan akan pandangannya terhadapku. Tapi
aku takkan menyerah, aku lihat juga Bara selalu melindungiku walaupun atas
permintaan Safitri. Hingga pada hari ke-4 formula itu telah aku temukan. Aku
belum memberitahu siapapun. Hingga Safitri menemukan itu di tasku.
“Re, ini
apaan? Ko kayaknya lucu sih warnanya ungu gitu.”
“Bukan apa-apa ko. Itu cuma
mainan hasil praktek di lab kamar aku yang kayak kapal pecah berantakan tiada
tara ko, tapi kalo kamu mau coba boleh” aku tertawa sambil menyodorkan botol
kecil itu kepada Sa,
“cara pakainya gimana? Terus pakenya dibagian apa? Fungsinya
buat apa? Cocok buatku kan?”
“Sa, kebiasaan deh nanya nya ga pake titik koma, nyerocos kayak
kereta ga punya rem. Itu pakenya di kulit, tinggal dilulurin aja ko.”
Sa hanya
tertawa mendengar jawaban ku. Dia mulai mengamati penasaran botol kecil itu. dia
berbaring di kasur tidur ku dan mencoba formula pertamaku. Kulit putihnya tidak
menunjukan perubahan apa pun. Aku yang tadinya tenang menjadi khawatir.
“Re, ko
ga ngefek apa-apa ya? Apa belum berhasil? Atau jangan-jangan kurang lama?”
“Duhduh, kayaknya ini masih gagal deh. Duh maaf ya Sa kulit putih kamu tidak lebih baik
lagi”
“ih kamu berlebihan ah…”
Sa menenangkan dengan ucapannya. aku hanya tersenyum menutupi kekhawatiranku.
Tanpa banyak basa-basi aku mengajak Sa untuk segera berangkat ke Hotel saja.
Hotel
tampak sepi, yang aku liat hanya pak John dan stafnya yang mondar-mandir, tak
sengaja aku lihat Sa mengobrol dengan pak John. Tak lama dari pertemuan Sa
dengan pak John, salah satu bodyguardnya menemuiku dan berkata kalau aku
dipanggil oleh pak John. Aku sudah berpikir pasti pak John ingin mengusirku,
tapi kenapa? Aku salah apa dengannya? Apa karena aku sering mengambil sampah buah
di sini? Aneh. Aku tak ingin berlama-lama dengan pikiran burukku. Aku masuk
keruangan kerja pak John dengan sopan santun. Rasa takut menyelimutiku. Aku
melihat mulut pak John akan berbicara, aku hanya bisa menahan dan menelan ludah
atas pengusiran yang akan dilakukan lelaki jutek itu padaku. Tiba-tiba
terdengar suara
“kamu ingin kerja di sini?” Pak john menatap sinis
aku kaget, dengan gemetar aku
mencoba membuka lebar-lebar mulutku dan memaksa pita suaraku bergerak
“ ya, pak, memangnya di sini buka lowongan pekerjaan? Setau saya,
selama saya diam disini kan tidak ada lowongan pak.”, jawabku.
“kamu ini sotau! oh ya dengar-dengar kamu punya formula bagus untuk kulit. Saya ingin kamu buka perawatan kulit
untuk turis sebagai pelengkap fasilitas disini. Saya akan bayar kamu 3x gaji
pelayan disini.” Mataku melotot, spontan aku menjawab ya pada pak John. Lalu
mengucapkan terimakasih pada pak John. Setelah keluar dari ruangan pak John,
aku menemui Sa. Aku yakin pasti dia yang memberitahu pak John tentang formula
itu. Aku mecarinya ke tempat perkumpulan pelayan, ketika itu aku melihat ia
sedang sendiri, aku mendekati dan berterimakasih padanya lalu memeluknya erat.
------
Pandangan
mataku menatap laut biru berbatas tosca. Tiba-tiba seorang lelaki mendekatiku
dan memegang pundakku. Lamunanku terhenti, pemutar kenanganku bersiap merekam
kejadian baru. Pantai ini tak jauh beda dengan kejadian 10 tahun lalu perjuanganku. Hanya perbedaan letak yang
mengurangi sensasinya. Pasir putih mulai mengajakku untuk bermain. Aku tak
pernah bosan dan takkan pernah bosan bermain dengan pasir, sekarang adalah kali
ke sepuluh wisataku ke pantai yang dibarengi dengan memperluas akses bisnis
treatmentku, walau nanti wisata ke
seratus pun, aku akan tetap bermain dengan pasir bersama keluarga baru, suamiku
Bara, ayah ibuku, mertuaku, saudaraku Safitri dan tak lupa suaminya John.
Kadang
hidup itu masa lampau. Aku seperti terjun dan kembali ke dalam bayanganku yang
muncul barusan, aku memang berdiri dihadapan salah satu latar kenangan pahit
dan manis yang ku alami dulu. Sekarang aku ada disini. Aku ada dengan
lamunanku. Nyatanya aku ada disini,bersama mimpiku.

Comments
Post a Comment